PEMUDA YANG TERTARIK MENGENAL BUDAYA KEMALIQ
PEMUDA YANG TERTARIK MENGENAL BUDAYA KEMALIQ
Cerpen karya Al Mukaram
Pada suatu hari di sebuah desa kecil tinggallah seorang pemuda yang sangat mencintai budaya daerah. Pemuda ini bernama Karam dan hanya tinggal berdua dengan kakeknya saja. Karam seorang pemuda yang sopan dan taat beribadah, kesehariannya di desa bekerja sebagai petani. Di area persawahan tampak Karam berdiri sambil tersenyum melihat tanaman jagungnya, kemudian datang pemuda tersebut, sebut saja Adit, menghampirinya.
“Assalamualaikum, Karam apa kabar?” Tanya Adit.
“Waalaikumsalam, baik. Kapan balik kampung Adit?, berarti ada libur ya?” Tanya Karam. Kaget dan memeluk sahabat baiknya.”
“Iya ada libur semester, baru seminggu di kampung, ya dari pada di sana mending balik kampung.”
Kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu, kembali bersama, bercanda dan berbincang sampai waktu senja, dan tiba-tiba Adit di telepon oleh ayahnya untuk kembali di kota. Sebelum Adit kembali pergi ke kota, Adit menanyakan masa depan Karam.
“Karam!, ikutlah denganku ke kota!, di sana ada perusahaan ayahku, jadi kau bisa bekerja di perusahaan ayahku sambil kuliah!, aku tahu kamu punya cita-cita yang besar.” Ujar Adit.
Maaf Adit aku belum bisa, siapa yang akan menjaga kakek kalau aku pergi ke kota? Tanya Karam.
“Baiklah, kalau itu keputusanmu aku tidak bisa memaksa tapi kalau kau berubah pikiran ingin pergi ke kota aku pasti akan membantumu.” Ujar Adit. Kemudian Karam memeluk Adit yang akan pergi ke kota dan Adit pun pergi meninggalkan Karam di Area persawahan.
Karam yang duduk sendiri di area persawahan memikirkan cita-cita yang ingin ia raih tapi di satu sisi dia tak bisa meninggalkan kakek dan kampung halamannya.
Karam pulang di rumah, dengan perasaan yang bercampur. Di rumah setelah solat magrib Karam di panggil untuk menghadap kakek di teras rumah.
“Iya kakek apa yang bisa Karam lakukan?
Duduklah dulu!, Sekarang kau sudah lebih dewasa nak, Ini waktu yang tepat bagimu, pergilah ke kota!, kejarlah impianmu!.” Ujar Kakek.
“Tapi bagaimana dengan kakek? Siap yang akan mengurus kakek jika aku pergi? Tidak! aku tidak akan pergi!.”
“Tidak usah menghawatirkan kakek di sini, kakek akan baik-baik saja”. Ujar Kakek.
Tiba-tiba Pak Usman datang di rumah Karam, dan mendengar apa yang sedang di bicarakan kakek dan Karam, dan mengatakan.
“Tidak usah khawatir Karam, kakekmu akan ikut pergi bersamamu di kota." Ujar pak Usman.
“Apa ini benar pak”. Karam merasa senang dan bersyukur karena kakeknya bisa ikut ke kota.
“Iya benar, paman mengetahui ini semua dari Adit, kalau kamu pemuda yang punya kemampuan dan skill, untuk itu paman datang untuk menjemput Karam bersama kakek. Urusan pekerjaan dan biaya kuliah biar paman yang urus.” Ujar Pak Usman.
Karam menangis, memeluk dan berterima kasih pada Pak Usman
“Bagaimana saya bisa membalas kebaikan bapak?, bapak begitu baik.” Ujar Karam.
“Jangan pikirkan tentang itu nak, yang penting harus semangat dan paman juga punya tugas buat Karam untuk mengurus perusahaan di kota. Paman percaya, kamu dan Adit bisa memajukan perusahaan.” Ujar pak Usman
“Baik pak, segala kebaikan bapak akan saya ingat dan saya bersama Adit akan berusaha memajukan perusahaan sesuai keinginan bapak.”
Pagi harinya, Karam dan kakek di jemput oleh Pak Usman (ayah Adit) untuk berangkat ke kota. Sesampai ke kota Karam dan Kakek melihat bagaimana suasana kota untuk pertama kalinya. Di dalam mobil Karam bertanya pada pak Usman.
“Pak!, di kota sangat berbeda sekali dengan desa, saya melihat di desa lebih alami dan perilaku masyarakat pun berbeda.”
“Wah kamu sudah bisa menilai, berbedaan antara desa dan kota serta masyarakatnya. Karam!, di sinilah orang-orang sibuk bekerja, di sini banyak orang hebat dan di kota setip detik adalah uang. Ok sekarang kita sudah sampai” Ujar Pak Usman.
Turun dari mobil, dan melihat rumah yang begitu indah dan besar, di rumah juga sudah ada Adit, yang menunggu kedatangan Karam dan kakek.
“Selamat datang di rumah, Karam dan kakek silakan masuk!.” Ujar Pak Usman
“Selamat datang di rumah, kakek, karam. Barangnya simpan saja di situ nanti saya suruh mas Doyo yang urus. Mas Doyo! cepat bawa barang ini di kamar yang kosong sebelah kamar saya dan antar Karam dan kakek di kamar itu”. Ujar Adit
Mas Doyo: Siap laksanakan bos muda.
“Istirahat dulu Karam, kek! nanti kita berbincang di ruang tamu.” Ujar Adit.
“Makasih banyak Adit, ayo kek kita istirahat dulu!.” Ujar Karam.
Setelah istirahat Karam di panggil oleh Pak Usman ayahnya Adit, untuk datang di ruang tamu. Di ruang tamu sudah ada pak Usman dan Adit.
“Iya pak, ada yang bisa saya bantu!?” Tanya Karam
“Duduk dulu!, sekarang paman tugas kan Karam dan Adit untuk mengambil alih perusahaan karena paman ada miting di luar kota, jadi paman berharap kalian berdua bisa menjalankan perusahaan.” Ujar pak Usman.
“Terus Karam jadi apa di perusahaan kita ayah?.” Tanya Adit.
“Untuk Karam paman kasih jabatan di bawah direktur perusahaan, karena Karam juga belum tahu misi dan tujuan perusahaan kita, kalau Karam mampu menjalankan tugas dengan baik, nanti paman kasih jabatan yang paling cocok buat Karam” ujar pak Usman.
“Ayah!, dua hari lagi kan kita mulai aktif bekerja di perusahaan. Jadi Adit mau mengajak Karam untuk berkeliling kota dulu!.” Ujar Adit.
“Iya boleh.”
“Tapi itu yah!, buat perjalanan!.”
“Baru kemarin dikasih juga, ini buat kalian berdua (uang), bawa motornya jangan ngebut ya, Adit!.” Ujar pak Usman
“Ok ayah siap, kita pergi dulu, ayo Karam!.”
“kita pergi dulu pak!.” Ujar Karam
“Ya hati-hati.”
Adit dan Karam pergi jalan-jalan berkeliling kota, banyak tempat yang menarik yang mereka lihat, ada satu tempat yang membuat Karam tertarik ingin melihat tempat tersebut. Karam pun bertanya pada Adit.
“Adit, yang kita lewati tadi itu tempat apa.? Tanya Karam.
“Kalau tempat itu namanya Kemaliq”. Ujar Adit.
Saking penasarannya Karam akan tempat itu, esoknya karam datang sendiri untuk melihat tempat tersebut. Karam melihat orang yang sedang berdebat dan hampir saja baku hantam, terlihat mereka membicarakan masalah tempat itu (Kemaliq), tiba-tiba Karam berusaha untuk mencegah terjadinya keributan.
“Ada masalah apa ini pak?, sehingga bapak berdua bertengkar seperti ini.” Tanya Karam.
“Begini nak, bapak ini mempermasalahkan tempat ini, mereka menganggap Kemaliq ini suatu tempat yang tidak boleh untuk beribadah, karena meraka menganggap hal itu sirik.”Ujar pak Toni.
“Sudah-sudah, Bapak berdua orang asli daerah ini kan? Jadi mari jaga perasaan masing-masing, saling menghormati dan saya mau bapak berdua berbaikan sekarang.” Ujar Karam.
Tiba-tiba bapak yang satu tidak menghiraukan perkataan Karam dan langsung pergi dari tempat itu.
“Terima kasih banyak telah membantu bapak tadi. Baik, perkenalkan nama saya pak Toni, nak namanya siapa?.” Ujar pak Toni.
“Iya pak sama-sama, nama saya Karam, saya mau tanya pak, tempat ini namanya apa pak?.” Tanya Karam.
“Baik akan bapak jelaskan sedikit untuk nak karam, tempat ini namanya Kemaliq sejarahnya panjang sekali, karena ini merupakan warisan dari para leluhur kami, tetapi banyak penduduk yang tidak mengetahui budaya ini yang sebenarnya. Bapak di sini sebagai penjaga tempat ini dari orang-orang yang ingin merusak Kemaliq.” Ujar pak Toni.
Ketika sedang asik berbincang dengan pak Toni, kemudian Karam di telepon oleh Adit untuk kembali di rumah, karena pergi tanpa memberi tahu, membuat orang-orang terdekat cemas.
“Halo...,karam! kamu di mana sekarang!?, kakekmu cemas kamu sih pergi ngak pamit-pamit.” Ujar Adit.
“Aduh aku lupa, baik sekarang aku langsung balik ke rumah.”
“Oke, aku tunggu.”
“Pak Toni!, saya balik dulu pak, bisa saya datang lagi untuk berbincang bersama bapak di sini!.” Ujar Karam
“Boleh-boleh, saya malah senang ada orang yang mau mengenal budaya Kemaliq ini.” Ujar Pak Toni.
“Baik pak, terima kasih banyak, saya pamit dulu.”
“Ya, hati-hati nak karam.”
Sesampai di rumah, karam ditampar oleh kakeknya karena membuatnya cemas.
“Maaf kek, Karam salah. Karam Cuma ingin melihat salah satu tempat bersejarah.”Ujar Karam.
“buat apa kamu pergi ke tempat itu?, kakek takut kalau terjadi sesuatu padamu “Ujar Kakek.
“Sudah, namanya anak muda kek jadi mereka ingin banyak mengetahui segala hal. O iya, besok Karam mulai masuk kerja di perusahaan!.” Ujar pak Usman.
“Baik pak.” Ujar Karam.
Pagi harinya Karam sudah ada di perusahaan, singkat cerita, pada bulan pertama, semenjak adanya Karam yang mengelola perusahaan, membuat perusahaan itu semakin bersaing dengan perusahaan- perusahaan lainnya, pada akhirnya perusahaan itu semakin maju dan terkenal.
“Karam! Paman bangga, kamu bisa memajukan perusahaan dengan sangat cepat”. Ujar Pak Usman.
“Ini semua berkat kerja keras karyawan kita pak” Ujar Karam.
“Iya, tapi ini karena kinerja kamu juga, Karam!. Ujar pak Usman.
“Iya pak, terima kasih.” Ujar Karam.
Walau sudah sibuk dengan pekerjaannya, Karam tidak lupa untuk memikirkan cara menyelamatkan budaya Kemaliq. Sampai akhirnya ia memutuskan bertemu dengan pak Toni di tempat Kemaliq.
“Bagaimana kabar pak, sehat?”. Tanya Karam.
“Alhamdulillah sehat”. Ujar pak Toni.
“Syukur kalau begitu pak. Semenjak saya sibuk saya tidak bisa datang di sini, karena banyak kesibukan di perusahaan, saya mau bertanya pak, apakah masyarakat sekarang sudah tidak mempermasalahkan keberadaan Kemaliq ini?”.
“Tetap masyarakat tidak percaya nak, padahal bapak sudah menjelaskan sebenar-benarnya tentang Kemaliq ini.” Ujar pak Toni.
Tiba-tiba datang sekelompok masyarakat menghampiri Karam dan pak Toni.
“Ada apa ini? Ada keperluan apa bapak-bapak dan ibu-ibu sehingga datang di sini?.” Ujar pak Toni.
“Pak Toni!, ini semua gara-gara tempat ini (Kemaliq), banyak anak-anak kami yang sakit karena mala petaka tempat ini, tempat ini harus di hancurkan!.” Ujar sekelompok warga.
“Astagfirullah, bapak-bapak, ibu-ibu, kita tidak boleh bertindak seperti ini, harus ada bukti yang benar. Dan saya selaku ketua RT akan berusaha menangani masalah yang menyebabkan anak-anak menjadi sakit. “Ujar pak Toni.
“Kami semua tidak percaya perkataanmu, Kami akan tetap menghancurkan tempat ini, karena tempat itu sumber masalah. Ayo semuanya kita hancurkan tempat ini.” Ujar sekelompok warga
“Tunggu dulu!, bapak-bapak ibu-ibu, saya bukan ingin ikut campur tapi sebagai sesama manusia saya akan tetap membela yang benar, masalah mengenai anak-anak yang sakit, bisa saja karena lingkungan yang tidak bersih. Baik saya akan beri dua pilihan apakah bapak-bapak dan ibu-ibu tetap ingin menghancurkan tempat ini atau ikut dengan saya!, saya akan membantu menangani masalah kesehatan di desa ini. Tapi kalau bapak-bapak dan ibu-ibu tetap ingin menghancurkan tempat ini, maka semua saya pastikan akan berurusan dengan pihak kepolisian.” Ujar Karam.
Sekelompok masyarakat takut atas penjelasan dari Karam dan meminta maaf.
“Maaf kan kami pak, atas kesalahan dan kekeliruan kami dan jangan laporkan kami ke polisi.” Ujar salah satu warga.”
“Saya maaf kan, mari kita saling bersama dan jangan langsung menyimpulkan ketika ada masalah langsung disalahkan karena Kemaliq, itu jangan sampai terulangi bapak-bapak ibu-ibu.” ujar pak Toni.
“Baik pak, kalau begitu kita semua pergi dulu pak.” Ujar sekelompok warga.
“Iya, hati-hati bapak-bapak ibu-ibu, semoga anak-anaknya cepat sembuh dari penyakit.” Ujar pak Toni.
“Nak Karam!, terima kasih banyak untuk ini semua, sudah dua kali nak Karam mereda Kemarahan warga.” Ujar pak Toni.
“Ya, saya suka membantu sesama pak, apalagi ini berkaitan dengan budaya yang belum banyak dikenal orang-orang.” Ujar Karam.
“Pak saya punya ide, bagaimana kita membuat, meluncurkan sebuah buku tentang Kemaliq ini, agar masyarakat tahu sejarah dari Kemaliq dan semoga dengan adanya buku tentang Kemaliq ini, dapat memberikan pemahaman pada masyarakat untuk mencintai budaya dan melindunginya. Apa bapak setuju dan mau bekerja sama?”. Tanya Karam.
“Tentu saja, saya siap nak, untuk membantu menciptakan buku tentang Kemaliq, bapak akan keluarkan pemahaman bapak sebaik-baiknya.” Ujar pak Toni.
“Baik kalau begitu pak, saya juga akan membantu warga untuk mencari cara untuk menangani masalah kesehatan. Nanti untuk anggaran pembuatan bukunya biar saya yang urus pak, sekarang tugas bapak menjelaskan pada saya tentang Kemaliq ini, soalnya kemarin pak Toni belum menjelaskan semua tentang kemaliq.” Ujar Karam.
“Baik, akan saya jelaskan semuanya.” Ujar pak Toni.
Pak Toni dan Karam membicarakan tentang Kemaliq, sambil berjalan melihat tempat tersebut, sehingga pemahaman Karam akan Kemaliq semakin dalam. Singkat cerita, satu bulan kemudian bahwa buku hasil kerja sama pak Toni dan Karam berhasil dikirim di setiap daerah dan masalah kesehatan di desa tersebut berhasil diatasi.
“Usaha kita berhasil pak, buku tentang Kemaliq ini juga banyak yang suka dan informasi yang saya dapatkan ternyata, banyak juga anak-anak muda yang membaca buku tentang Kemaliq.” Ujar Karam.
Datang sekelompok warga, berterima kasih dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.
“Pak Toni dan Nak Karam, terima kasih banyak, karena berhasil membanggakan desa lewat budaya Kemaliq dan maaf kan kami atas perilaku buruk kami pada bapak, dan untuk nak Karam, kami berterima kasih atas bantuan untuk menangani masalah kesehatan di desa kami, terima kasih banyak”. Ujar sekelompok warga.
“Sama-sama pak, selagi saya bisa, saya akan tetap membantu.” Ujar Karam.
Masalah ini pun selesai dan Akhir cerita, Karam dan pak Toni berpelukan dan bersyukur atas keberhasilan mereka menjaga keberadaan Kemaliq.
“Alhamdulillah, dengan adanya buku tentang Kemaliq ini, bisa membuat masyarakat paham dan peduli pada kebudayaan.” Ujar pak Toni.
“Iya pak Alhamdulillah, dan ini baru langkah awal kita pak, agar masyarakat menjaga kebudayaan agar tidak hilang.” Ujar Karam.
TAMAT
Bagus saudara smoga menjadi inspirasi bagi Masyarakat milenial seperti sekarang
BalasHapusBagus-bagus
BalasHapusSemakin banyak perkembangan.
Bagus, semoga menginspirasi banyak orang Terutama para pemuda/pemudi untuk mencintai budaya sendiri
BalasHapusWaah cerpen nya bagus, semoga makin berkarya kedepannya ๐
BalasHapusCerita yg bagus. Kembangkan LG karya mu
BalasHapusCerpen yang bagus, semangat menulis๐๐
BalasHapusBagus, semangat menulis yaa
BalasHapusDitunggu karya selanjutnya
BalasHapusBagus Banget
BalasHapusBagus bgt cerpen nya
BalasHapusBagus
BalasHapusdi tunggu crita selanjutnya
Wahh ceritanya baguss๐
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusDi tunggu cerita selanjutnya ๐
MasyaAllah semangat terus Allah, kembangkan.
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusMasyaallah bagus ceritanya, sering sering yah
BalasHapusbagus
BalasHapusCerita yang menarik
BalasHapusBagus sekali๐
BalasHapusWaduhhhh, kacauuuuuu udh bisa nulis cerpen ❤️
BalasHapusKembangkan
BalasHapusCerita yang sangat menarik trus berkarya yaa ๐ค
BalasHapusterus berkaryaaa
BalasHapusWiiih ceritanya kerenn, ditunggu cerita cerita selanjutnya๐๐
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus